Pencapaian MDGs
Cerminkan Komitmen Indonesia Untuk Meningkatkan
Kesejahteraan
KOMITMEN Indonesia untuk mencapai MDGs mencerminkan komitmen
Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dunia. Oleh karena itu, MDGs merupakan
acuan penting dalam penyusunan dokumen Perencanaan Pembangunan Nasional.
Pemerintah Indonesia telah mengarusutamakan MDGs dalam Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN 2005-2025), Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN 2004-2009 dan 2010-2014), Rencana Kerja Program Tahunan (RKP),
serta dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam lima tahun terakhir, di tengah kondisi negara yang
belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi tahun 1997/1998, Indonesia
menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Gejolak harga minyak dan harga
pangan serta perubahan iklim global serta terjadinya krisis keuangan global
2007/2008 mewarnai dinamika pembangunan Indonesia. Tingkat pertumbuhan ekonomi
menurun menjadi sekitar 4-5 persen, dibandingkan dengan pertumbuhan sebelum
krisis yang mencapai sebesar 5-6 persen.
Kenaikan harga pangan yang menjadi pengeluaran rumah tangga
terbesar di kelompok masyarakat menengah bawah dan miskin semakin menimbulkan
beban. Perubahan iklim yang ekstrem telah berdampak pada kegagalan pertanian
dan kerusakan aset masyarakat serta terganggunya kesehatan masyarakat.
Dalam lingkungan global yang kurang menguntungkan tersebut
Indonesia secara bertahap terusmelakukan penataan dan pembangunan di segala
bidang sebagai suatu wujud dari komitmen Indonesia untuk bersama-sama dengan
masyarakat dunia mencapai Tujuan Pembangunan Milenium.
Sampai dengan tahun 2010 ini, Indonesia telah mencapai
berbagai sasaran Tujuan Pembangunan Milenium yang dapat dikelompokkan ke dalam
tiga kategori yaitu: (
a) sasaran yang telah dicapai;
(b) sasaran yang menunjukkan kemajuan signifikan dan
diharapkan dapat tercapai pada tahun 2105 (ontrack); dan
(c) sasaran yang masih memerlukan upaya keras untuk
pencapaiannya.
Sasaran dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang telah
dicapai, mencakup:
MDGs 1, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari USD 1 per hari telah menurun dari 20,6 persen pada tahun 1990 menjadi 5,9 persen pada tahun 2008.
MDGs 1, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita kurang dari USD 1 per hari telah menurun dari 20,6 persen pada tahun 1990 menjadi 5,9 persen pada tahun 2008.
MDGs 3, yaitu kesetaraan gender dalam semua jenis dan
jenjang pendidikan telah hampir tercapai yang ditunjukkan dengan rasio angka
partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A dan
SMP/MTs/Paket B berturut-turut sebesar 99,73 dan 101,99, dan rasio angka melek
huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun sebesar 99,85
pada tahun 2009.
MDGs 6, yaitu prevalensi tuberkulosis menurun dari 443 kasus pada 1990 menjadi
244 kasus per 100.000 penduduk pada tahun tahun 2009.
Sasaran dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang telah
menunjukkan kemajuan signifikan dan diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015
(on-track) adalah:
MDGs 1, yaitu prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya, dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007. Target 2015 sebesar 15,5 persen diperkirakan akan tercapai.
MDGs 1, yaitu prevalensi balita kekurangan gizi telah berkurang hampir setengahnya, dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun 2007. Target 2015 sebesar 15,5 persen diperkirakan akan tercapai.
MDGs 2, yaitu angka partisipasi murni untuk pendidikan dasar
mendekati 100 persen dan tingkatmelek huruf penduduk melebihi 99,47 persen pada
2009.
MDGs 3, yaitu rasio APM perempuan terhadap laki-laki di
SM/MA/Paket C dan pendidikan tinggi pada tahun 2009 berturut-turut 96,16 dan
102,95. Dengan demikian maka target 2015 sebesar 100 diperkirakan akan
tercapai.
MDGs 4, yaitu angka kematian balita telah menurun dari 97
per 1.000 kelahiran pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.000 kelahiran pada tahun
2007 dan diperkirakan target 32 per 1.000 kelahiran pada tahun 2015 dapat
tercapai.
MDGs 8, yaitu dimana Indonesia telah berhasil mengembangkan
perdagangan serta sistem keuangan yang terbuka, berdasarkan aturan, bisa
diprediksi dan non-diskriminatif – ditunjukkan dengan adanya kecenderungan
positif dalam indikator yang berhubungan dengan perdagangan dan sistem
perbankan nasional. Pada saat yang sama, kemajuan signifikan telah dicapai
dalam mengurangi rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB dari 24,6 persen pada
1996 menjadi 10,9 persen pada 2009. Debt Service Ratio juga telah berkurang
dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen pada tahun 2009.
Sasaran dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang telah
menunjukkan kecenderungan
kemajuan yang baik namun masih memerlukan kerja keras
untuk mencapai sasaran yang ditetapkan pada tahun 2015, mencakup:
MDGs 1, dimana Indonesia telah menaikkan ukuran untuk target
pengurangan kemiskinan dan akan memberikan perhatian khusus untuk mengurangi
tingkat kemiskinan yang diukur terhadap garis kemiskinan nasional dari 13,33
persen (2010) menjadi 8-10 persen pada tahun 2014.
MDGs 5, dimana angka kematian ibu menurun dari 390 pada
tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007.
Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per
100.000 kelahiran hidup.
MDGs 6, dimana jumlah penderita HIV/AIDS meningkat,
khususnya di antara kelompok risiko tinggi pengguna narkoba suntik dan pekerja
seks.
Keberhasilan pembangunan Indonesia, telah menuai berbagai
prestasi dan penghargaan dalam skala global. Kemajuan pembangunan ekonomi dalam
lima tahun terakhir, telah mengurangi ketertinggalan Indonesia dari
negara-negara maju. Negara-negara maju yang tergabung dalam OECD (Organizati on
of Economic and Cooperati on Development) mengakui dan memberikan apresiasi
kemajuan pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia bersama Cina, India,
Brazil, dan Afrika Selatan diundang untuk masuk dalam kelompok ‘enhanced
engagement countries’ atau negara yang semakin ditingkatkan keterlibatannya
dengan negara-negara maju.
Indonesia sejak 2008 juga tergabung dalam kelompok G-20,
yaitu dua puluh negara yang menguasai 85 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
dunia, yang memiliki peranan sangat penti ng dan menentukan dalam membentuk
kebijakan ekonomi global.
Keberhasilan dalam pencapaian MDGs di Indonesia ini
tergantung pada pencapaian tata pemerintahan yang baik, kemitraan yang
produktif pada semua tingkat masyarakat dan penerapan pendekatan yang
komprehensif untuk mencapai pertumbuhan yang pro-masyarakat miskin,
meningkatkan pelayanan publik, memperbaiki koordinasi antar pemangku
kepentingan, meningkatkan alokasi sumber daya, pendekatan desentralisasi untuk
mengurangi disparitas serta memberdayakan masyarakat di seluruh wilayah
Indonesia.
Dalam merancang pencapaian MDGs ke depan, jumlah, pertumbuhan
dan persebaran penduduk akan menjadi salah satu pertimbangan penting.
Percepatan pencapaian tujuan dan sasaran MDGs memerlukan penanganan masalah
kependudukan secara komprehensif dan terpadu, mencakup perluasan akses
pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, serta perlindungan bagi
hak-hak reproduksi.
Saat ini, jumlah penduduk Indonesia adalah 237,5 juta jiwa
(hasil sementara Sensus Penduduk 2010, BPS), telah meningkat lebih dari dua
kali lipat dibandingkan jumlah pada tahun 1971. Meski terjadi penurunan laju
pertumbuhan penduduk dari 1,97 persen per tahun pada kurun waktu 1980-1990
menjadi 1,49 persen per tahun pada kurun waktu 1990-2000, dan menjadi 1,30
persen per tahun pada tahun 2005, namun diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada
tahun 2015 akan mencapai sekitar 247,6 juta jiwa (Proyeksi Penduduk Indonesia
2005-2025). Dari jumlah tersebut, sekitar 60,2 persen berada di Pulau Jawa yang
memiliki luas hanya 7 persen dari total luas Indonesia. Selain itu, tak kurang
dari 80 persen industri terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Pemerintah berkomitmen untuk memelihara lingkungan
sosial-ekonomi dan budaya agar semua warga negara, organisasi masyarakat sipil
dan sektor swasta dapat berpartisipasi secara produktif dalam pembangunan yang
mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Dalam upaya percepatan pencapaian
MDGs, peran serta masyarakat, termasuk organisasi masyarakat dan khususnya
kelompok perempuan, telah memberikan kontribusi nyata terutama di bidang
pendidikan, kesehatan, akses air bersih, dan lingkungan hidup.
Ke depan, gerakan masyarakat yang mengakar di akar rumput
tersebut akan terus diperhatikan untuk mempercepat pencapaian MDGs dan
meningkatnya kesejahteraan secara berkelanjutan.
Langkah-langkah untuk mempercepat pencapaian MDGs selama
lima tahun ke depan sebagaimana diamanatkan oleh Inpres Nomor 3 Tahun 2010
tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan, adalah meliputi : Penyusunan Peta
Jalan Percepatan Pencapaian MDGs yang akan digunakan sebagai acuan seluruh
pemangku kepentingan melaksanakan percepatan pencapaian MDGs di seluruh
Indonesia.
Pemerintah provinsi menyiapkan “Rencana Aksi Daerah
Percepatan Pencapaian MDGs” yang digunakan sebagai dasar bagi perencanaan,
peningkatan koordinasi upaya-upaya untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
Alokasi dana pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten akan
terus ditingkatkan untuk mendukung intensifikasi dan perluasan program-program
pencapaian MDGs. Akan dirumuskan mekanisme pendanaan untuk memberikan insentif
kepada pemerintah daerah yang berkinerja baik dalam pencapaian MDGs.
Dukungan untuk perluasan pelayanan sosial di daerah
tertinggal dan daerah terpencil akan ditingkatkan. Kemitraan Pemerintah
dan Swasta (KPS atau Public Private Partnership/PPP) di sektor sosial,
khususnya pendidikan dan kesehatan akan dikembangkan untuk meningkatkan sumber
pembiayaan dalam mendukung upaya pencapaian MDGs.
Mekanisme untuk perluasan inisiatif CSR (Corporate Social
Responsibility) akan diperkuat dalam rangka mendukung pencapaian MDGs.
Serta meningkatkan kerjasama pembangunan terkait konversi utang (debt swap)
untuk pencapaian MDGs dengan negara-negara kreditor.
* (Sumber Bappenas)
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&uact=8&ved=0CD0QFjAE&url=http%3A%2F%2Fwww.tabloiddiplomasi.org%2Fprevious-isuue%2F116-desember-2010%2F993-pencapaian-mdgs-cerminkan-komitmen-indonesia-untuk-meningkatkan-kesejahteraan.html&ei=m48uVNHQIsqhugTqqIGQAg&usg=AFQjCNERNZ5AdOJWcJrjPl8Hu2UfvBnnGA&sig2=zOg-iouq6iO-Vn_3PY3J_w&bvm=bv.76802529,d.c2E
kesimpulan :
kesimpulan :
Millennium Development Goals (MDGs)
terkait dengan pencapaian target MDGs seperti pengurangan angka kemiskinan, akses ke
pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kesetaraan gender, dipulihkannya
kerusakan lingkungan, dan dikuranginya permukiman kumuh,
.pengurangan angka kemiskinan dimana banyak sekali di
pinggiran kota jakarata tempat tempat kumuh yg tidak terawatt oleh pemerintah
dan itu harus dibenahi oleh pemerintah. Masyarakat kurang peduli terhadap pendidikan
anak,kesehatan masyarakat dalam menjaga kesehatan dirinya,membngun lingkungan
yang rusak demi memperbaiki lingkungan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar